tabloidbongkar.com – Rupiah berpotensi melemah pada awal pekan ini akibat meningkatnya ketegangan geopolitik setelah agresi militer Amerika Serikat (AS) ke Iran, yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Konflik ini mendorong investor mengalihkan dana dari aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia menuju aset aman seperti dollar AS, sehingga memperkuat dollar dan menekan rupiah.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat serangan AS-Israel ke Iran berpotensi membuat pergerakan rupiah melemah. Serangan ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan pertemuan antara delegasi AS dan delegasi Iran terkait reaktor nuklir dan misil.
Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (2/3), bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang 16.790 – 16.820 rupiah per dollar AS
“Pelemahan kurs rupiah seiring adanya ketegangan geopolitik antara Iran dengan AS,” ujar Ibrahim.
Dia menyampaikan bahwa pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada Kamis (26/2) tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengisyaratkan bahwa mereka akan segera melanjutkan negosiasi, dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina, kata mediator Oman.
Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi sentimen lain, terutama pasca putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump.
Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda, dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut akibat bea masuk tersebut
Pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi.
“Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April,” ujar dia. Sementara penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap sebagai waktu yang paling mungkin bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, lanjut Ibrahim, kini tampaknya kurang pasti.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat pertemuan di bulan Juli sebagai waktu yang lebih mungkin untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas sekitar 66 persen.(KY.Tb)
